Mahasiswa UAD Perkenalkan Chem-E-Car, Mobil Berbahan Bakar Reaksi Kimia

- Minggu, 30 Mei 2021 | 14:50 WIB
Superheat Team ketika menjalankan mobil karya mereka.(Foto: ist) (Ist)
Superheat Team ketika menjalankan mobil karya mereka.(Foto: ist) (Ist)

SM Wawasan - Berbagai terobosan baru memanfaatkan energi terbarukan terus berlangsung tiada henti. Banyak yang memanfaatkan tenaga surya, air dan lainnya.

Kini, mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta memanfaatkan reaksi kimia untuk menjalankan mobil.

Mereka yang tergabung dalam Superheat Team membuat model mobil berbahan bakar reaksi kimia yang diberi nama Chem-E-Car UAD.

Mobil tersebut memiliki sejumlah kelebihan salah satunya menggunakan H2O2 sebanyak 11,1 ml untuk mencapai jarak tertentu.

Pada rancangannya, mobil memungkinkan mencapai jarak sejauh 30 meter dengan tekanan maksimum 170 psi yang diperoleh dari reaksi kimia.

Manager Superheat Team UAD, Tifanny Rizka Ariandi menuturkan bahan mobil yang mereka buat sebagian besar dari akrilik.

Bahan tersebut memiliki sifat yang kokoh dan ekonomis. Namun ada juga beberapa bagian yang terbuat dari besi dan stainless alloy, contohnya seperti alat mur, ring, dan alat mekanik lainnya.

''Sebagian besar peralatan kami peroleh dari e-commerce. Proses pendesainan tidak begitu rumit, dan memerlukan waktu sekitar tiga bulan, mulai dari pengembangan konsep, desain,

hingga merangkai model mobil yang siap jalan,'' papar mahasiswa Program Studi Teknik Kimia, Fakultas Teknologi Industri (FTI) ini yang timnya diperkuat M Sigit Mustofa, Anggita Rossee Kusuma Wardani, Miranda Widyaningsih, Leon Bagus Arshandy dan M Fariq Fajar.

Lantas, berapa biaya yang dikeluarkan untuk membuat model mobil berbahan akrilik? Ia menyebutkan dari riset dan pengembangannya memerlukan biaya sebesar Rp 7.000.000 sedangkan bahan kimia yang digunakan untuk sekali jalan hanya Rp 1.000.

Gas Tekan

Tifanny menjelaskan mobil tersebut menggunakan bahan penggerak kimia yakni hidrogen peroksida dengan katalis natrium kromat. Prinsip kerjanya menggunakan gas tekan.

Pertama, bahan kimia dimasukkan ke dalam vessel. Di dalam vessel terjadi reaksi antara hidrogen peroksida dan natrium kromat yang menghasilkan gas (oksigen).

''Nah, hasil reaksi kimia akan tertampung terlebih dahulu di vessel hingga mencapai tekanan tertentu, kemudian gas akan dialirkan untuk menggerakan piston yang terhubung dengan ban mobil.

Setelah itu, mobil akan berjalan dan berhenti pada jarak tertentu sesuai dengan tekanan yang dihasilkan oleh reaksi kimia,'' ucapnya.

Ia dan teman-temannya membawa model mobil kr Kompetisi Chernival: International Chem-E-Car Competition (ICECC) 2021 yang digelar di Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS).

Chem-E-Car merupakan lomba perancang mobil dengan memanfaatkan reaksi kimia, tujuannya membuat model mobil yang dapat dijalankan dengan reaksi kimia melalui jarak yang ditentukan saat membawa beban. Mereka sukses menyabet juara II di kompetisi.

Pada lomba, mobil karya mereka awalnya mampu mengangkut beban pasir sebanyak 600 gram dan kemudian sampai 1,5 kilogram.

Tim sempat mengalami kendala antara lain komponen mobil yang mulai menurun performanya, sehingga harus mengganti dengan komponen baru.

Dalam waktu singkat mereka mencoba mengambil ulang data riset dan tentunya data yang diperoleh tidak semaksimal sebelumnya. Namun, mereka yakin kerja keras bakal memberikan hasil yang terbaik.

Tiffanny dan teman-temannya akan terus mengembangkan model mobil berbasis reaksi kimia.

Mereka mulai melakukan evaluasi dan merancang lebih baik lagi mulai dari desain, power source, maupun stopping mechanism. Mereka bakal mempersiapkan diri mengikuti kompetisi Chem-E-Car di ldi Malaysia, Australia, maupun Jerman.

Halaman:
1
2
3

Editor: Eddy Tuhu

Sumber: SM Network

Tags

Terkini

China Rilis Penampakan Foto Lengkap Planet Mars

Jumat, 11 Juni 2021 | 17:33 WIB

Awas, Suhu Panas Bumi akan Melampui Batas

Senin, 31 Mei 2021 | 10:14 WIB
X