1.347 Penderita Covid-19 Dikarantina di Semarang, Gereja di Kawasan Marina untuk Isolasi

- Rabu, 16 Juni 2021 | 10:57 WIB
Ilustrasi efek samping vaksin Covid-19. Vaksin AstraZeneca masih membuat masyarakat ragu, namun dr. Tirta Mandira Hudhi menjelaskan efek sampingnya yang masih aman. /Pixabay/Elf-Moondance
Ilustrasi efek samping vaksin Covid-19. Vaksin AstraZeneca masih membuat masyarakat ragu, namun dr. Tirta Mandira Hudhi menjelaskan efek sampingnya yang masih aman. /Pixabay/Elf-Moondance

SEMARANG, suaramerdeka-wawasan.com-Lonjakan kasus covid-19 di Semarang, mendapat perhatian dari Pemerintah Kota (Pemkot).

Guna mengantisipasi 'meledaknya' pasien covid-19 Pemkot menambah empat gedung isolasi.

Empat tempat isolasi, Di antaranya asrama Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo dengan kapasitas 200 tempat tidur (TT), kantor diklat di Ketileng sebanyak 100 TT.

Kemudian yang ketiga salah satu rumah sakit (RS) swasta baru dengan 100 TT, serta salah satu ruang di gereja di kawasan Marina sebanyak 50 TT.

Baca Juga: Sejumlah Siswa Terpapar Covid-19, Belajar Tatap Muka Ditunda, dr Tompi : Kalau Belum Siap Jangan Dulu

“Itu ruang-ruang baru yang bisa kami mintakan izin kepada para pemilik gedung untuk jadi ruang karantina. Total mencapai 450 ruang,” terang Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi, di Kompleks Balai Kota, kemarin.

Walikota menjelaskan, angka pasien Covid-19 yang dirawat di RS dan rumah isolasi mencapai 1.347 orang kemarin. Di mana pasien dari luar Kota Semarang sebanyak 550 orang, selebihnya warga dalam kota.

Angka itu terus naik-turun sehingga membuat sejumlah ruang di RS penuh. Di gedung karantina asrama haji misalnya, sebanyak 120 ruangan penuh saat baru dua hari dibuka.

Baca Juga: Kegiatan di Ponpes Dihentikan Satgas Covid-19 Kota Pekalongan, Dites Swab 44 Santri Reaktif

“Angka pasien di RS itu fluktuatif. Jadi naik turun. Ada yang masuk dan keluar. Angka kesembuhannya juga bagus,'' ungkap Hendi.

Perihal banyaknya pasien rujukan dari luar kota, pihaknya menjelaskan tenaga kesehatan di Semarang akan berusaha semaksimal mungkin menangani pasien.

“Asalkan yang jelas kalau kita merasa ada gejala demam (sakit) segera di tes SWAB. Jangan ragu. Jangan malu atau takut,''ujar Hendi.

Perihal ditemukannya varian baru Covid-19 di Kabupaten Kudus, Hendi meminta warga tetap menjaga diri dengan menjalankan protokol kesehatan. Covid-19 tidak bisa diabaikan.

“Saya bertanya pada pakar, secara teknis katanya varian baru itu penularannya lebih cepat. Tapi yang saya bisa tegaskan varian baru atau lama itu semuanya berbahaya,''ungkap Hendi.

Halaman:
1
2

Editor: Kusmiyanto

Sumber: SM Network

Tags

Terkini

Waduh...KPK Membuka Kemungkinan Memeriksa Ketua MA

Minggu, 25 September 2022 | 15:21 WIB
X