Sebelum Tatap Muka Sekolah Dimulai, DPR Minta Siswa dan Guru Divaksin Dulu

- Selasa, 15 Juni 2021 | 10:08 WIB
lustrasi anak-anak, Gus AMI meminta pemerintah mempersiapkan sekolah tatap muka dengan sebaik-baiknya karena anak-anak belum dapat vaksinasi Covid-19. /Pixabay/DarkmoonArt
lustrasi anak-anak, Gus AMI meminta pemerintah mempersiapkan sekolah tatap muka dengan sebaik-baiknya karena anak-anak belum dapat vaksinasi Covid-19. /Pixabay/DarkmoonArt

JAKARTA,suaramerdeka-wawasan.com- Bulan Juli 2021, sekolah tatap muka akan dilakukan. Guna mengoptimalkan pencegahan penyebaran covid-19, pihak sekolah harus benar-benar mempersiapkan dengan matang.

Kebijakan sekolah tatap muka ini dilakukan berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) empat Menteri yakni Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Dalam Negeri, Menteri Kesehatan, dan Menteri Agama.

Wakil Ketua DPR Bidang Korkesra Abdul Muhaimin Iskandar (Gus AMI) mengingatkan pentingnya kesiapan protokol kesehatan (prokes) di sekolah.

Baca Juga: Penyebaran Covid-19 'Menggila', Walikota: PKM Diperketat, Jam Usaha Masyarakat Sampai Pukul 22.00 WIB

Apalagi, saat ini di sejumlah daerah terjadi peningkatan kasus corona. Mengacu pada data Satgas Covid-19 hingga Minggu 13 Juni 2021, terdapat tambahan 9.868 kasus baru yang terinfeksi corona di Indonesia sehingga total menjadi 1.911.358 kasus corona.

Di sisi lain, sampai saat ini program vaksinasi Covid-19 juga masih belum menyentuh ke anak sekolah.

”Saat ini sejumlah daerah ada lonjakan kasus bahkan ada varian baru Covid-19. Ini harus menjadi catatan dan harus dilakukan persiapan yang sangat serius dalam menghadapi sekolah tatap muka. Jangan sampai sekolah menjadi klaster baru penularan kasus Covid-19,” ujar Gus AMI, Senin 14 Juni 2021.

Baca Juga: Daerah Belum Bisa Deteksi Covid-19 Asal Virusnya Varian India, Inggris, Afrika Atau Lainnya

Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini mengatakan bahwa sebelum dilakukan sekolah tatap muka, program vaksinasi Covid-19 terhadap guru juga harus dituntaskan.

Di sisi lain, sekolah juga harus melakukan komunikasi secara intens dengan para orangtua siswa sehingga anaknya bisa menerapkan prokes sesuai standar keamanan.

Gus AMI menegaskan bahwa belajar tatap muka sebenarnya selama ini sudah dilakukan di sejumlah pesantren dengan tanpa gangguan serius.

Namun, prokes di pesantren yang sudah melakukan pembelajaran tatap muka benar-benar memperhatikan prokes.

”Bahkan ketika anak kembali ke pesantren, orangtua pun tidak bisa mengantarkannya sampai di dalam, cukup di halaman pesantren. Anak yang masuk juga dilakukan pemeriksaan swab antigen atau Gnose,” katanya.

Terkait belum adanya vaksinasi untuk anak sekolah, Gus AMI mendorong Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bersama Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI), dan organisasi lainnya.

Untuk vaksinasi anak, untuk terus mengkaji keamanan vaksin bagi anak-anak atau masyarakat yang berusia di bawah 16 tahun, mengingat vaksin Sinovac, Pfizer, dan AstraZeneca baru direkomendasikan bagi masyarakat yang berusia di atas 16 tahun.

”Kemenkes bersama IDAI harus memastikan persiapan proses uji klinis vaksin kepada anak-anak dilakukan secara hati-hati dan bertahap, agar vaksinasi pada anak nantinya tidak akan menimbulkan efek samping yang mengkhawatirkan dan berdampak jangka panjang bagi tumbuh kembang anak,” tuturnya.

Gus AMI meminta Kemenkes bersama peneliti vaksin agar terus meneliti jenis-jenis vaksin yang telah mendapatkan perizinan edar di Indonesia dengan memperhatikan aspek keamanan, tolerabilitas dan imunogenisitas, beserta dosis yang tepat untuk diberikan kepada anak-anak.

Halaman:
1
2

Editor: Kusmiyanto

Sumber: PikiranRakyat.com

Tags

Terkini

X