Kasus Pelecehan Seksual terhadap Mahasiswa di UNNES Tinggi, Sebagian Besar Tak Berani Lapor

- Sabtu, 16 Oktober 2021 | 11:43 WIB
Ilustrasi kekerasan Seksual. /Pixabay/
Ilustrasi kekerasan Seksual. /Pixabay/

SEMARANG, suaramerdeka-wawasan.com - Kasus pelecehan seksual yang dialami mahasiswa di Kampus UNNES (Universitas Negeri Semarang) ternyata cukup tinggi.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Anti-Kekerasan Seksual BEM Keluarga Mahasiswa UNNES, Siti Nur Dzakiyyatul Khasanah mengatakan, tercatat dari 133 responden sebanyak 59 orang mahasiswa mengaku pernah menjadi korban pelecehan seksual.

"Rinciannya 93,38% korban perempuan dan 6,02% korban laki-laki, dan paling banyak berstatus mahasiswa dengan 92,48% disusul oleh karyawan sebanyak 4,51%, dosen 0,75% dan alumni 2,26%,'' ujar Siti Nur pada Jumat, 15 Oktober 2021, dikutip dari Info Semarang Raya.

Baca Juga: Tak Ingin Anak Jadi Korban Perceraian, Dj Una dan Irsan Ramadhan Sepakat Urus Bersama

 Menurut Siti, dalam survei tersebut juga termuat hasil yang menyatakan bahwa sebanyak 72,9% korban tidak melakukan pelaporan terhadap kasus yang dialaminya, dan sisanya sudah melapor ke pihak atau lembaga yang berwenang.

Ia mengatakan, kasus pelecahan seksual yang terjadi di kampus seperti fenomena gunung es dengan jumlah kasus yang sebenarnya terjadi belum dapat dipastikan.

Hal ini, kata Siti lagi, dipicu karena tidak banyak penyintas yang berani melapor.

Baca Juga: Diwarnai Pertarungan Berdarah, Petinju Jateng Willis Boy Riripoy Raih Medali Emas Kelas 91 Kg PON XX Papua

 Menurutnya, permasalahan psikologis penyintas seperti kecemasan yang ditimbulkan oleh kasus kekerasan seksual mempengaruhi dalam mengambil keputusan untuk melaporkan kasus tersebut.

''Selain itu, penyintas juga perlu mempertimbangkan biaya yang akan menyebabkan penundaan dalam pelaporan kasus kekerasan seksual,'' imbuhnya.

Ia mengatakan, hingga kini belum semua pendidikan tinggi memiliki peraturan khusus untuk mencegah dan menangani kekerasan seksual di lingkungan kampus.

Siti pun mengatakan, kebijakan rektor yang mengatur kekerasan seksual yang sudah ada di beberapa kampus dirasa belum maksimal, karena masih diikuti struktur birokrasi yang tidak independent dan justru syarat akan kepentingan.

Atas dasar itu, lanjut dia, BEM KM UNNES berupaya mendorong agar diterbitkan Peraturan Menteri tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Pendidikan Tinggi.

"BEM KM UNNES mendorong Komnas Perempuan untuk turut pro-aktif dalam mendesak Mendikbud-Ristek segera menerbitkan peraturan menteri yang dapat menjawab permasalahan kekerasan seksual di lingkungan perguruan tinggi," tegasnya.***

Halaman:
1
2

Editor: Eddy Tuhu

Tags

Terkini

X