Sekretaris Umum Muhammadiyah Menyebut Untuk Menjadi Bangsa yang Kokoh, Persatuan Perlu Dipertahankan

- Rabu, 18 Agustus 2021 | 10:24 WIB
Ilustrasi Bendera Indonesia. /Pixabay/mufidpwt
Ilustrasi Bendera Indonesia. /Pixabay/mufidpwt

JAKARTA, suaramerdeka-wawasan.com - rasa keastaun dan persatuan perlu terus dipupuk di negara Indonesia tercinta ini.

Dengan modal persatuan dan kesatuan akan menjadikan negara kuat dan tidak terpecah belah, menggingat Indonesia memepunyai berbagai macam suku dan bahasa yang berbeda.

Meski berbagai macam suku di Indonesia, namun kesatuan dan persatuan perlu dijunjung tinggi oleh setiap warga negara Indonesia.

Baca Juga: Pemerintah Terus Genjot Vaksinasi Massal, Kapolri : Satu Hari Satu Juta Vaksin Telah Terwujud

Dengan rasa persatuan yang kuat maka akan menjadi modal untuk bangsa Indonesia ini tetap bersatu, meski berbeda suku dan agama.

Semboyan Bhinneka Tunggal Ika menjadi penguat persatuan bangsa Indonesia yang dipahami sebagai Berbeda-beda Tetapi Satu Jua mengantarkannya sebagai salah satu dari sedikit negara yang berhasil mengintegrasikan berbagai suku bangsa menjadi satu kesatuan.

Sekretaris Umum (Sekum) Pimpinan Pusat Muhammadiyah Abdul Mu’ti memaknai semboyan Bhinneka Tunggal Ika sebagai Berbeda-beda Agar Kita Menjadi Satu yang tentunya berbeda dengan masyarakat pada umumnya.

Menurutnya, persatuan adalah keberagaman.

Baca Juga: IDI Meminta Pemerintah Menurunkan Harga Obat, di Luar Negeri Lebih Murah

“Sehingga kalau seringkali Bhinneka Tunggal Ika itu sering diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan unity in diversity, saya justru menerjemahkan dengan terjemahan lain Unity is diversity. Justru persatuan itu adalah keberagaman,” katanya.

Dikutip SuaraMerdeka-Wawasan.com dari berita Pikiran-Rakyat.com berjudul ''Bhineka Tunggal Ika Menurut Sekum Muhammadiyah, Persatuan Adalah Keberagaman''.

Ia menyebutkan bahwa hal tersebut perlu untuk tetap dipertahankan agar mendapatkan pengakuan serta menjadi modal sosial untuk menjadi bangsa yang bersatu.

“Jadi tetap dipertahankan bahkan kemudian mendapatkan pengakuan serta menjadi modal sosial untuk kita menjadi bangsa yang bersatu untuk menjadi bangsa yang berdaulat, dan menjadi bangsa yang kuat,” katanya.

Dalam kehidupan bangsa, Abdul Mu’ti berharap modal perbedaan ini terus dijaga dengan menghormati setiap perbedaan yang ada dan bukan menegasikan salah satu kelompok yang berbeda.

Oleh karena itu, ia mengajak masyarakat untuk berkaca dari proses Sumpah Pemuda karena setiap komunitas suku dan agama tetap membawa identitas kelompok tapi bersedia menyatu dalam identitas imajiner yang lebih besar bernama Indonesia.

“Oleh karena itu ketika kita bicara kedaulatan, Sumpah Pemuda itu adalah awal bagi kita membangun Cultural Sovereignty. Suatu kedaulatan budaya yang kita sebut dengan nama Indonesia tapi Indonesia yang kita jadikan sebagai milik kita bersama itu, bukan Indonesia yang menegasikan perbedaan yang ada atau meleburkan yang sudah ada,” katanya.

Ia mengatakan bahwa Sumpah Pemuda justru menegaskan kebhinekaan, memberikan ruang aktualisasi dan integrasi agar kebhinekaan tidak hilang.

“Tetapi justru menegaskan kebhinekaan yang ada dan memberikan ruang aktualisasi dan integrasi agar kebhinekaan itu tidak kemudian hilang karena kepentingan sebuah entitas baru yang bernama Indonesia itu,” ucapnya.

Abdul Mu’ti mengingatkan untuk selalu menjaga kedewasaan dalam hidup kebangsaan.

Menurutnya, perilaku menegasikan satu kelompok bangsa atau agama akan berdampak kontraproduktif sebagaimana yang terjadi pada negara-negara Eropa di kawasan Balkan.

“Dalam konteks sekarang justru itu yang terjadi, sehingga banyak negara yang pecah. Pecahan-pecahan itu akibat faktor-faktor etnis yang tidak bisa dipertemukan karena adanya upaya untuk menonjolkan identitas satu kelompok yang kemudian menegasikan eksistensi dari kelompok yang lainnya,” tuturnya.*** (Mutia Yuantisya/Pikiran-Rakyat.com).

 

Halaman:
1
2
3

Editor: Kusmiyanto

Tags

Terkini

X