Sedulur Singkep Terima KTP-el. Yuk Mengenal Mereka Lebih Dekat

- Rabu, 1 Juni 2022 | 19:40 WIB
Samin Surosentiko (Istimewa)
Samin Surosentiko (Istimewa)

Hingga tahun 70-an mereka lebih suka mengisolasi diri atau menutup diri dari masyarakat lain. Bahkan mereka sempat tak menyadari kalau Indonesia telah merdeka. Baru setelah itu mereka mulai membuka diri.

Suku Samin memiliki beberapa ajaran utama bagi para anggotanya. Mereka percaya bahwa dengan menerapkan ajaran ini, maka kehidupan warga Samin akan berjalan dengan baik.

Beberapa ajaran atau kebiasaan suku Samin, antara lain: Tidak bersekolah, suka memakai iket, dengan celana selutut.

Di kehidupan sosial mereka menolak berdagang karena bagi mereka itu artinya mereka menolak kapitalisme seperti yang diusung oleh Belanda.

Dan ada satu ajaran yang menarik adalah tidak melakukan poligami. Menurut suku samin, menikah adalah sesuatu yang sakral.

Menikah dilakukan untuk selama-lamanya sehingga tidak ada kata untuk berselingkuh atau berpoligami. Namun, mereka dapat menikah lagi apabila istri atau pasangannya sudah meninggal dunia.

Lantas siapa sebenarnya Samin Surosentiko itu?

Samin Surosentiko lahir pada tahun 1859 di desa Ploso, Kediren, sebelah utara Randublatung, Blora. Ayahnya adalah Raden Sutowijoyo atau Samin Sepuh.

Nama aslinya adalah Raden Kohar karena Samin Sepuh merupakan kerabat dari keturunan dari Pangeran Kusumaningayu atau Kanjeng Pangeran Arya Kusumawinahyu.

Pangeran Kusumaningayu adalah Raden Adipati Brotodiningrat yang memerintah di Kabupaten Sumoroto (sebelah barat kota Ponorogo).

Halaman:

Editor: Didik Saptiyono

Tags

Terkini

X