KH Mohammad Ridwan Sururi, Penghafal Qur’an Itu Telah Tiada

- Minggu, 13 Juni 2021 | 17:54 WIB
PELEPASAN JENAZAH: Wakil Bupati Banyumas Drs H Sadewo Tri Lastiono saat melepas jenazah Almaghfurlah KH Mohammad Ridwan Sururi di halaman pondok pesantren An-Nur, Kedunglemah, Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas, kemarin. Foto: SMN/Agus Fathudin (Agus Fathudin)
PELEPASAN JENAZAH: Wakil Bupati Banyumas Drs H Sadewo Tri Lastiono saat melepas jenazah Almaghfurlah KH Mohammad Ridwan Sururi di halaman pondok pesantren An-Nur, Kedunglemah, Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas, kemarin. Foto: SMN/Agus Fathudin (Agus Fathudin)

BANYUMAS, suaramerdeka-wawasan.comInnalillahi wa inna ilaihi rajiuun. Ulama kharismatik pengasuh pondok pesantren An-Nur, Kedunglembah, Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas, KH Mohammad Ridwan Sururi, kemarin meninggal dunia dalam usia 78 tahun.

Ribuan pentakziah dari berbagai daerah Minggu kemarin memadati dusun Kedunglemah. Meski demikian melalui pengeras suara Kepala Desa Kedungbanteng Tri Biantoro BcHk mengingatkan para pentakziah agar tetap mematuhi protokol Kesehatan, yaitu memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan.

‘’Alhamdulillah upacara pemakaman berjalan lancar dan tertib dengan pengawalan keamanan dari Koramil dan Polsek Kedungbanteng, Banser, Pemuda Pancasila dan Ormas lainnya,’’ kata KH Imam Satori, salah satu putra menantu KH Ridwan Sururi.

Upacara pemakaman dipimpin Wakil Bupati Banyumas Drs H Sadewo Tri Lastiono. ‘’Warga Banyumas merasa sangat kehilangan wafatnya beliau,’’ kata Sadewo.

Menurut Sadewo, KH Ridwan Sururi merupakan sosok ulama yang sangat sederhana dan tidak suka menonjolkan kelebihannya.

‘’Salah satu yang disembunyikan dari masyarakat umum, Kiai Ridwan seorang hafidz atau penghafal Al-Qur’an 30 juz. Dalam kesibukannya membimbing santri dan umat, Kiai Ridwan khatam Al-Quran 30 juz dua kali setiap minggu. Banyak yang tidak tahu ini. Karena beliau tidak mau menonjolkan diri,’’ katanya.

Anggota Komisi VIII DPR RI KH Muslih Zainal Abidin dalam tadzkirohnya mengingatkan kematian sebagai pelajaran kepada manusia yang masih hidup.

‘’Pada saatnya entah kapan kematian itu pasti akan dating. Karena itu bersiap-siaplah dengan membawa bekal kebaikan sebanyak-banyaknya untuk dibawa mati kelak seperti yang dicontohkan Kiai Ridwan Sururi,’’ katanya. Pembacaan doa dipimpin KH Ahmad Sobri, pengasuh pondok pesantren Al-Falah, Jatilawang, Banyumas.

Hujan Tangis

Para kiai, ulama dan santri tak kuasa menahan tangis saat salah satu putra menantu.

Halaman:

Editor: Eddy Tuhu

Sumber: SM Network

Tags

Terkini

X