Nasib Wanita Afghanistan, Taliban Mengizinkan untuk Memegang Posisi Politik

- Kamis, 19 Agustus 2021 | 11:43 WIB
Ilustrasi perempuan Afghanistan. /Pixabay/ArmyAmber
Ilustrasi perempuan Afghanistan. /Pixabay/ArmyAmber

AFGHANISTAN, suaramerdeka-wawasan.com - Pasukan Taliban hingga saat ini masih terus menguasai Afghanistan.

Aktivitas warga Afghanistan, pasca dikuasainya oleh Taliban masih belum jelas, apakah warga dijamin keamanannya atau tidak oleh Taliban.

Termasuk kegiatan para wanitanya apakan diperbolehkan melakukan kegiatan dan bekerja hingga menjadi pejabat di Afghanistan, hingga saat ini juga belum ada kejalasan.

Baca Juga: Pelajar dan Mahasiswa Afghanistan Berharap Taliban Akan Jaga Keamanan, Kami Tak Ingin Perang

Dengan demikian nasib warga Afghanistan khususnya wanita masih mencemaskan dan belum tahu arahnya.

Teka-teki nasib warga Afghanistan khususnya apakah perempuan akan diizinkan untuk memegang posisi politik dan bagi mereka yang bekerja untuk pemerintahan sebelumnya,Juru bicara Taliban Suhail Shaheen menjawab.

Suhail berjanji, perempuan Afghanistan akan diselamatkan dan kehormatan serta hidup mereka aman.

Baca Juga: Cabut Status Darurat Covid-19, PM Malaysia Muhyiddin Dituding Abai pada Raja dan Berkhianat

Sebelumnya, Taliban telah mengumumkan amnesti umum di Afghanistan.

Warga Afghanistan yang bekerja untuk pemerintah atau organisasi asing telah menyuarakan keprihatinan atas kemungkinan balas dendam Taliban.

Akan tetapi kelompok itu secara terbuka membantah segala upaya balas dendam.

Lebih lanjut, Shaheen mengatakan kepada media Inggris pada Selasa, 17 Agustus 2021 bahwa wanita Afghanistan akan memiliki hak untuk bekerja, dan menerima pendidikan hingga tingkat universitas.

“Kebijakan kami jelas, mereka bisa memiliki akses ke pendidikan dan pekerjaan, itu satu hal. Mereka dapat memegang posisi, tetapi posisi yang dapat mereka pegang adalah berdasarkan aturan Islam jadi ada kerangka umum untuk mereka,” kata shaheen.

Berbicara kepada Sky News, Suhail Shaheen mengatakan di bawah Taliban, wanita Afghanistan tetap diharapkan mengenakan jilbab, meskipun tidak menutupi seluruh wajah.

“Ini bukan aturan kami, ini aturan Islam. Ini untuk keamanan mereka,” ujar Shaheen.

Kemudian, ketika ditanya siapa yang akan memimpin Taliban di negara itu, Shaheen mengatakan konsultasi akan dilakukan dan hasilnya diumumkan dalam dua atau tiga hari.

Di sisi lain, Mullah Abdul Ghani Baradar secara luas dianggap sebagai calon utama.

Dikutip SuaraMerdeka-Wawasan.com dari berita Pikiran-Rakyat.com berjudul ''Janji Taliban bagi Perempuan Afghanistan, Bisa Kerja dan Berpendidikan Tinggi''.

Diketahui, dia adalah salah satu anggota pendiri Taliban pada 1990-an dan merupakan wakil pemimpin dan kepala politik saat ini.

Selain itu, Shaheen mengatakan Baradar berniat untuk kembali ke Afghanistan tetapi tidak bisa mengatakan tepatnya kapan, sebagaimana dikutip Pikiran-Rakyat.com dari laman Anadolu Agency.

Di samping itu, Shaheen juga memiliki pesan untuk Perdana Menteri Inggris Boris Johnson dan komunitas internasional yang lebih luas bahwa mereka harus menghormati aspirasi rakyat Afghanistan.

“Ini adalah kewajiban mereka karena mereka berada di balik kehancuran Afghanistan selama 20 tahun pendudukan,” kata Shaheen.

Tentunya adalah kewajiban moral mereka juga, untuk membantu merekonstruksi Afghanistan dan membantu orang-orang untuk memulai kehidupan baru, dan babak baru.

Dalam hal ini, Shaheen mengatakan bahwa tidak ada kelompok atau individu yang diizinkan menggunakan suaka Afghanistan untuk merencanakan kegiatan terorisme.

AS dan kekuatan lainnya menginvasi Afghanistan pada musim gugur 2001, dengan mengatakan bahwa para pemimpin Taliban telah memberikan perlindungan kepada teroris al-Qaeda di balik serangan terhadap AS pada 11 September 2001.

Dalam wawancara itu, Shaheen juga ditanya tentang video dan foto viral yang menunjukkan warga Afghanistan jatuh dari pesawat dalam upaya mereka untuk melarikan diri dari negara itu.

Dia mengatakan Taliban tidak bertanggung jawab untuk hal itu, karena warga sudah lama ingin pergi dari negara yang miskin, meskipun eksodus kemudian dipercepat karena pasukan Taliban mengambil alih lebih banyak wilayah dalam beberapa pekan terakhir.

Namun, Shaheen mengatakan bahwa Taliban dapat mengambil alih Afghanistan begitu cepat karena mereka menginginkan apa yang diinginkan rakyat.

“Tuntutan kami serupa. Budaya kita mirip. Semuanya mirip. Kami lebih dekat dengan rakyat daripada mereka (pemerintah sebelumnya),” ujarnya.

Dengan penghentian bantuan internasional, Sky News bertanya kepada Shaheen bagaimana Taliban dapat menjalankan negara secara finansial.

“Kami memiliki sumber daya alam yang sangat besar. Kami memiliki rakyat yang sangat pekerja keras. Kami berharap dan kami percaya pada rakyat kami dan kapasitas mereka,” katanya.

Demikian, Shaheen mengatakan bahwa Afghanistan menginginkan kerja sama masyarakat internasional untuk membangun kembali negara itu.

Dia menambahkan bahwa meskipun tidak menerima dukungan keuangan dari Pakistan, Rusia, atau China, Taliban memiliki hubungan baik dengan mereka.***(Nurul Khadijah/Pikiran-Rakyat.com).

Halaman:

Editor: Kusmiyanto

Tags

Terkini

X