Cabut Status Darurat Covid-19, PM Malaysia Muhyiddin Dituding Abai pada Raja dan Berkhianat

- Senin, 16 Agustus 2021 | 09:55 WIB
Ilustrasi Virus Corona. /Pixabay /
Ilustrasi Virus Corona. /Pixabay /

MALAYSIA, suaramerdeka-wawasan.com - Penyeberan virus Covid-19 di negara Malaysia kini terus terjadi dan masih tergolong membahayakan.

Akibat virus Covid-19 menelan banyak korban yang terpapar Covid-19, pemerintah Malaysia menerapkan status darurat Covid-19.

Dalam kebijakannya tiba-tiba status darurat Covid-19 di Malaysia oleh Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin dicabut.

Baca Juga: Pemerintah Arab Saudi Keluarkan Izin Umrah 2021, Jamaah Wajib Ikuti Prosedur Kesehatan Ketat

Pencabutan status darurat Covid-19 dilakukan oleh Muhyiddin Yassin tanpa persetujuan Raja Malaysia.

Akibatnya Muhyiddin Yassin dituding berkhianat karena dinilai secara sepihak memutuskan pencabutan status darurat Covid-19 tanpa sepengetahuan Raja.

Istana Raja Malaysia menegaskan, Yang di-Pertuan Agong Sultan Abdullah Ahmad Shah tidak pernah berpikir apalagi memberikan persetujuannya rencana pemerintah mencabut status darurat Covid-19.

Baca Juga: Densus 88 Polri Kembangkan 37 Terduga Teroris, 10 Diketahui dari Jawa Tengah

Sang Raja lantas mengutarakan kekecewaannya terhadap keputusan yang diambil pemerintahan Muhyiddin tersebut.

Akibat dari itu, banyak dari warga Malaysia terjangkit virus berbahaya tersebut, dan tak sedikit hingga meninggal dunia.

"Tidak hanya gagal menghormati prinsip kedaulatan hukum tapi juga meremehkan fungsi dan kewenangan Yang Mulia sebagai kepala negara," bunyi pernyataan Istana.

Setelah pihak Istana mengumumkan hal itu, parlemen Malaysia mulai menggoyang Muhyiddin. Apalagi barisan oposisi, mereka gencar menyerukan pengkhianatan dan desakan pengunduran diri Muhyiddin.

Diberitakan AFP, pemimpin koalisi oposisi pemerintah, Anwar Ibrahim, tegas mengatakan Muhyiddin mundur lantaran dinilai telah "melanggar konstitusi. Selain itu dia keras menyebut Muhyiddin menghina institusi monarki konstitusional, dan membingungkan parlemen.

Portal berita MalaysiaKini melaporkan, Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin akan mengundurkan diri pada Senin, 16 Agustus 2021.

Hal tersebut diungkap Menteri di Departemen Menteri Malaysia bidang Penugasan Khusus Mohd Redzuan Md Yusof pada Minggu, 15 Agustus 2021.

Dikutip SuaraMerdeka-Wawasan.com dari Pikiran-Rakyat.com berjudul ''Digoyang' Oposisi Gagal Selamatkan Nyawa dari Covid-19, PM Malaysia Muhyiddin Hari Ini Mengundurkan Diri''.

Penyebab Muhyiddin mengundurkan diri dipicu salah kebijakan soal penanganan Covid-19 yang membingungkan. Dengan kondisi tersebut dia kehilangan mayoritasnya karena pertikaian dalam koalisi yang berkuasa.

Muhyiddin dinilai membawa ketidakjelasan kepada negara yang tengah bergulat dengan lonjakan Covid-19 dan penurunan ekonomi.

Dia dituding abai pada Raja dan tidak segera membentuk pemerintahan berikutnya karena tidak ada anggota parlemen yang memiliki mayoritas.

"Besok ada rapat kabinet khusus dan penghadapan Muhyiddin ke Istana untuk mengajukan pengunduran dirinya," kata Mohd Redzuan.

Sejak Virus Covid-19 mewabah di Wuhan, China dan mulai menyebar ke beberapa negara, Raja Malaysia telah menerapkan status darurat Covid-19 sejak 12 Januari lalu.

Dengan titah Raja, Perdana Menteri Muhyiddin Yassin berpendapat status darurat harus diberlakukan di Malaysia untuk menangkal virus corona masuk.

Muhyiddin lantas mendeklarasikan status darurat dengan menangguhkan hak parlemen (reses). Artinya, Muhyiddin mengambil kebijakan penanganan pandemi tanpa melalui persetujuan legislatif.

Langkah berani Muhyiddin ini menuai hasil bagus. Kabinet Muhyiddin dinilai berhasil menekan penyebaran dan laju infeksi Covid-19.

Satu di antaranya menerapkan penguncian wilayah (lockdown) pada Maret tahun lalu. Saat itu, laju infeksi harian corona dapat ditekan.

Akan tetapi, telah Muhyiddin menerapkan serangkaian pelonggaran, Malaysia kembali didera gelombang baru penularan Covid-19 yang diperparah dengan penyebaran varian Delta corona yang lebih menular.

Kabarnya, langkah tersebut lah yang membuat Raja marah pada Muhyiddin. Lantas dia kembali menerapkan lockdown lebih ketat pada 1 Juni hingga hari ini.

Sayangnya, kebijakan lockdown dan status darurat, penularan Covid-19 Malaysia malah semakin buruk dan memicu kemarahan publik.*** (Rizki Laelani/Pikiran-Rakyat.com)

Halaman:

Editor: Kusmiyanto

Tags

Terkini

X