Jutaan Warga Amerika Serikat Belum Divaksin, Varian Delta Terus Mengganas

- Senin, 9 Agustus 2021 | 09:35 WIB
Pemandangan Times Square di Kota New York, Amerika Serikat. /Pixabay/Wallula
Pemandangan Times Square di Kota New York, Amerika Serikat. /Pixabay/Wallula

AMERIKA, suaramerdeka-wawasan.com - Penyebaran virus Covid-19 dengan varian baru jenis Delta terus merambah dunia.

Sejumlah negara hingga saat ini terus berusaha memutus virus varian Delta agar tidak menyebar dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

Salah satu cara untuk memutus mata rantai varian Delta dengan melakukan vaksinansi massal.

Baca Juga: Kelompok Taliban Akui Serang Juru Bicara Presiden Afganistan Hingga Tewas

Sayangnya, vaksinansi massal tidak bisa menjamin tidak melonjaknya angka penyebaran virus Covid-19 dengan varian Delta.

Hal ini dibuktikan di negera Amerika Serikat, meski sudah 70 persen vaksin dilakukan namun angka lonjakan masih juga tinggi.

Amerika Serikat (AS) kini memiliki rata-rata kasus Covid-19 sebanyak 100.000 per hari. Lonjakan kasus terjadi seiring meningkatnya penyebaran varian Delta dari virus corona.

Baca Juga: Anggap Sepele Prokes, Amerika Mulai Kelabakan Akibat Lonjakan Covid-19 Kembali Naik

Menurut data Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS, di seluruh negara bagian sebanyak 70,6 orang dewasa telah menerima satu dosis vaksin Covid-19, sementara 60,9 persen telah divaksinasi penuh.

Namun, masih ada jutaan warga AS yang belum divaksin. Lonjakan kasus corona tercatat di negara bagian dengan tingkat vaksinasi rendah seperti Florida dan Texas.

Dampak dari belum divaksinnya jutaan warga, ini membuat virus varian Delta terus mengganas di Amerika.

Dikutip SuaraMerdeka-Wawasan.com dari berita Pikiran-Rakyat.com berjudul ''Meski Sudah 70 Persen Populasi Divaksin, Rata-rata Kasus Covid-19 di AS Capai 100.000 per Hari''.

“Model kami menunjukkan bahwa jika kami tidak (memvaksinasi orang), kami dapat mencapai beberapa ratus ribu kasus sehari, mirip dengan lonjakan kami pada awal Januari,” kata Direktur CDC Rochelle Walensky di CNN pekan ini, dikutip dari Al Jazeera, Minggu, 8 Agustus 2021.

Pada Januari 2021 lalu, kasus corona di AS mencapai rekor tertinggi yakni sekitar 250.000 kasus per hari. Angka ini meningkat sejak November 2020.


Kasus corona di AS sempat mencapai titik terendah pada bulan Juni, rata-rata sekitar 11.000 per hari, tetapi enam minggu kemudian jumlahnya menjadi 107.143.

Tingkat rawat inap dan kematian Covid-10 juga meningkat pesat, meskipun semuanya masih di bawah puncak yang terlihat awal tahun ini sebelum vaksin tersedia secara luas di seluruh negara bagian AS.

“Korelasi antara vaksinasi dan rawat inap sangat mencolok. Pejabat kesehatan telah mempertimbangkan bahwa mereka yang divaksinasi mungkin masih tertular virus , tetapi konsekuensinya jauh lebih ringan daripada mereka yang tidak divaksinasi,” kata Mike Hanna dari Al Jazeera melaporkan dari Washington, DC.

Hanna mengatakan lonjakan infeksi di AS baru-baru ini telah mendorong beberapa gubernur negara bagian yang sebelumnya tidak mendukung vaksinasi untuk berubah pikiran, tetapi perbedaan besar tetap ada pada mandat memakai masker.

"Negara bagian selatan, sepenuhnya menentang pemakaian masker. Negara bagian lain, khususnya di timur, kini kembali diwajibkan menggunakan masker. Jadi ada cara berbeda dalam menangani virus ini,” katanya.*** (Julkifli Sinuhaji/Pikiran-Rakyat.com)

Halaman:
1
2

Editor: Kusmiyanto

Tags

Terkini

X