Indonesia Mendukung Perdamaian PBB Dalam Konlik Palestina-Israel

- Senin, 14 Juni 2021 | 13:33 WIB
Rupanya Indonesia sempat impor senjata Israel. /Antara Foto/Novrian Arbi
Rupanya Indonesia sempat impor senjata Israel. /Antara Foto/Novrian Arbi

PALESTINA,suaramerdeka-wawasan.com-Hilman Latief menyampaikan bahwa pada 1936, Haji Agus Salim pernah menulis artikel di Pedoman Masjarakat yang bertajuk Yahudi dan Arab di Palestina, Pertarungan Kebangsaan.

Menurutnya, tulisan Haji Agus Salim tersebut menandakan bahwa sebelum kemerdekaannya, Indonesia telah memberikan respons terhadap konflik Palestina-Israel.

“Jadi jauh sebelum 1948 (kemerdekaan Israel) dan jauh sebelum kita merdeka tahun 1945, Haji Agus Salim sudah menulis tentang itu. Ini menarik, saya kira ini informasi penting,” kata Hilman Laiteif yang dikutip Pikiran-Rakyat.com dari Muhammadiyah, Senin, 14 Juni 2021.

Hilman Latief menyebutkan dua tahun setelah itu, Haji Agus Salim kembali menulis artikel sekaligus mengoreksi tulisannya di Pedoman Masjarakat.

Baca Juga: Ghaza Al Ghazali Bocorkan Aib Keluarga, Sebut Aa Gym Keji Terhadap Ibundanya, Teh Ninih

Dalam tulisan terakhirnya, Haji Agus Salim menegaskan konflik Palestina-israel merupakan persoalan agama dengan menyinggung status kepemilikan masjid Al-Aqsha.

“Ini informasi pra kemerdekaan dan ini menjadi informasi buat kita bahwa sebetulnya koneksi kita dengan Palestina itu sudah lama, jauh sebelum 1948. Era Soekarno juga sama misalnya di Konferensi Asia Afrika tahun 1955,” katanya.

Sementara itu, pada masa Orde Baru posisi Indonesia terhadap Palestina diistilahkan oleh Hilman sebagai A Functional Ambiguity lantaran belum jelasnya sikap Indonesia terhadap Palestina antara mendukung sepenuhnya atau hanya sebagai negara simpatisan semata.

Pasalnya, Indonesia mendukung proses perdamaian yang dilakukan PBB di Timur Tengah. Namun, khusus kasus Palestina, Indonesia menolak mengirimkan bantuan militer sebagaimana yang diminta Mesir dan Syiria.

Selain itu, Hilman Latief menyebutkan bahwa Indonesia-Israel memiliki hubungan lantaran pemerintah Indonesia secara diam-diam membeli 14 pesawat tempur dari Israel.

“Pemerintah Indonesia sebenarnya memiliki hubungan dengan Israel bahkan membeli senjata dari Israel, pesawat tempur. Tahun 1982 beli pesawat dari Israel jutaan dolar. Jadi kita dengan Israel punya suatu hubungan. Ini pada masa Orde Baru,” katanya.

Meskipun demikian, Hilman Latief mengatakan bahwa pada saat Palestina mendeklarasikan kemerdekaan pada 15 November 1988, tiga hari setelahnya Indonesia memberikan pengakuan resmi Palestina sebagai negara yang berdaulat.

Pada masa pemerintahan Gus Dur, Indonesia sempat berusaha membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Cara tersebut bukan berarti Gus Dur tidak mendukung kemerdekaan Palestina yang sudah digaungkan sejak kepemimpinan Soekarno.

Menurutnya, bagi Gus Dur two state solution dirasa sebagai jalan tengah untuk menciptakan perdamaian dari konflik antara Israel dan Palestina.

 

Oleh karena itu, Hilman Latief berharap Indonesia memainkan perannya sebagai penengah dari konflik Palestina-Israel yang telah berlangsung cukup lama ini.

Bahkan ia mempertanyakan apakah Indonesia mendukung two state solution atau one state solution?

Halaman:
1
2

Editor: Kusmiyanto

Sumber: PikiranRakyat.com

Tags

Terkini

X