Umat Muslim Dianjurkan Puasa Tasu'a dan Puasa Asyuro. Seperti Apa dan Bagaimana Kisahnya?

- Selasa, 2 Agustus 2022 | 13:07 WIB
ilustrasi beribadah (pixabay/konevi)
ilustrasi beribadah (pixabay/konevi)

Jawab mereka: "Hari ini Allah memenangkan Nabi Musa dan Bani Israil terhadap Fir'aun dan kaumnya, maka kami puasa karena mengagungkan hari ini."

Maka Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: "Kami lebih layak (berhak) mengikuti jejak Musa dari kamu". Maka Nabi SAW menyuruh sahabat berpuasa.

Baca Juga: Jelang Malam 1 Suro. Ini Lima Tempat yang Bisa Anda Kunjungi

Nah, kemudian dikenal jika puasa ini adalah sama dengan puasa kaum yahudi. Namun itu tak sepenuhnya benar, karena seperti diriwayatkan Hisyam bin Urwah dari ayahnya dari Sayyidah Aisyah RA berkata: Bangsa Quraisy biasa berpuasa pada hari Asyura sejak zaman jahiliyah.

Dan, dari riwayat itu, diceritakan kalau Rosulullah SAW juga biasa ikut berpuasa di Makkah. Nah kemudian, setelah hijrah ke Madinah turun perintah wajib puasa bulan Ramadhan.

Karenanya, Nabi SAW bersabda: "Saya dahulu telah menyuruh kamu sebagai perintah wajib puasa Asyura, dan kini terserah siapa suka boleh puasa dan yang tidak suka boleh meninggalkannya".

Sayyidah Aisyah RA berkata: " Hari Asyura itu hari kesembilan (tanggal 9), pendapat lain menyebut tanggal 11 Muharram. Tetapi yang umum adalah tanggal 10 dan disunnahkan puasa tanggal 9 yang disebut Hari Taasu'a".

Sedangkan Ustadz Abdul Somad dalam sebuah ceremahnya menyarankan umat muslim menjalankan puasa Asyura mulai tanggal 9 sampai 11 Muharram atau tiga hari.

Bahkan, UAS menjelaskan pelaksanaan puasa di Bulan Muharram dilarang satu hari saja, atau Puasa Asyura 10 Muharram saja. Sebab, puasa 10 Muharram saja menyerupai Puasa Yahudi.

Nah, perilaku atau ibadah yang menyerupai orang Yahudi, Nasrani atau Majusi, dilarang oleh Nabi Muhammad SAW.

Halaman:

Editor: Didik Saptiyono

Tags

Terkini

Yuk Simak Tips Melakukan Rafting Bagi Para Pemula

Rabu, 10 Agustus 2022 | 10:05 WIB
X