Persoalan Utang Indonesia, DPR : Makin Mengkhawatirkan, Perlu Dikaji Lebih Dalam

- Jumat, 25 Juni 2021 | 08:59 WIB
Ilustrasi grafik ekonomi. /Pixabay/Gerd Altmann
Ilustrasi grafik ekonomi. /Pixabay/Gerd Altmann

Politisi PKS itu menegaskan bahwa perlu dilakukan kajian lebih dalam terkait rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

“Selama ini, perhitungan yang dilakukan hanya utang pemerintah pusat terhadap PDB. sedangkan utang BUMN tidak dimasukkan dalam hitungan. Praktek di negara-negara lain utang BUMN termasuk dalam kalkulasi rasio tersebut,”ucapnya.

Anis Byarwati menegaskan bahwa perlu dilakukan klarifikasi terkait perhitungan rasio utang pemerintah Indonesia terhadap PDB sudah apple to apple dengan perhitungan di negara lain.

“Tidak masuknya utang BUMN dalam hitungan, menyebabkan rasio utang Indonesia menjadi cukup rendah. Ini perlu klarifikasi,” katanya.

Catatan keempat yang disampaikan Anis Byarwati, yaitu terkait data rasio utang terhadap ekspor yang mencapai 209 persen.

“Agar publik faham bahwa utang kita tidak baik-baik saja,” ucapnya.

Rasio utang semakin mengkhawatirkan karena ekspor Indonesia menghadapi tantangan penolakan dari negara-negara lain dengan alasan lingkungan.

Ekspor yang ditolak di negara lain seperti CPO dan batu bara.

Anis Byarwati mengingatkan kondisi ini sangat berbahaya usai mendengar pernyataan dari BPK yang menyatakan bahwa meningkatnya utang pemerintah disebabkan pandemi Covid-19.

Dalam Rapat Paripurna DPR pada Selasa, 22 Juni 2021, BPK menyampaikan kekhawatirannya yang kemungkinan pemerintah tidak akan mampu membayar utang dan bunga utang.

Halaman:

Editor: Kusmiyanto

Sumber: Pikiran Rakyat

Terkini

X